HIMALOGIN

Bahan Tanam Coklat

Bahan Tanam Coklat

Faktor yang Mempengaruhi Untung Rugi Serta Kendala yang Dihadapi Kakao

Bahan tanam memegang peranan penting didalam usahatani kakao selain lingkungan yang sesuai. Pengemangan kakao di Indonesia yang didominasi oleh perkebunan rakyat saat ini sedang terjadi serangan penyakit busuk buah dan VSD. Kedua penyakit ini merupakan penyakit utama tanaman kakao, oleh karena itu pemanfaatan dan penanaman kakao yang meliki ketahanan yang baik, produksi tinggi dan mutu baik sangat diperlukan. Klon kakao yang unggul telah tersedia diberbagai temapat di daerah sentra kakao di Indonesia beberapa klon kakao yang mempunyai potensi produksi 1,5-2 ton dan dapat digunakan oleh petani dan pekebun.

Permasalahan mutu kakao rakyat di Indonesia masih banyak mengalami kendala anatara lain adalah kualitas biji kakao yang tidak terfermentasi. Permasalahan yang mendasar umumnya di perkebunan rakyat adalah tidak terjadi perbedaan harga yang nyata antara kakao fermentasi dengan yang tanpa fermentasi. Peluang ini juga masih diperoleh karena dilapangan masih banyak para pedagang kakao yang membeli kakao rakyat tanpa fermentasi. Petani umumnya enggan fermentasi selain harga tidak berbeda, kakao fermentasi memerlukan waktu lebih lama dalam prosesingnya kurang lebih selisih waktu 4-5 hari. Oleh karena itu dengan waktu yang lebih lama petani juga mengeluarkan biaya yang lebih besar.

Kakao edel atau yang dikenal dengan kakao mulia (Java Cacao)  merupakan kakao yang sudah lama dikembangkan di Indonesia. Jenis kakao ini memerlukan teknik budidaya yang intensif sehingga kakao mulia hanya dibudidayakan oleh Perusahaan Perkebunan Negara yang saat ini terbatas di usahakan oleh PTPN XII di Jawa Timur. Kakao mulia memeiliki citarasa yang sangat baik sehingga kakao ini sangat diperlukan oleh para konsumen, dipasaran dunia edel cacao sangat diminati dan dengan harga yang sangat tinggi. Klon atau bahan tanaman kakao mulia yang tersedia di Indonesia adalah DR 1, DR 2, DR 38, DRC 16 dengan tingkat produktivitas 1-1,5 ton biji kering/ha/th klon anjuran lama dan yang merupakan klon baru adalah ICCRI 1 dan ICCRI 2 dengan potensi produktivitas 2 ton /ha/th. Ciri utama kakao mulia ini adalah kotiledone biji berwarna putih saat masih segar dan bila sudah kering berwarna cerah, di pasaran dunia kakao ini dikenal dengan jenis penghasil biji kakao yang berkualitas tinggi. Untuk menghasilkan biji yang berkualitas tinggi yang memiliki cita aroma yang khas perlu difermentasi, selain itu bahan tanam yang digunakan harus klonal bukan berasal dari biji seperti kakao lindak yang umumnya dikembangkan oleh rakyat (95%).

Aspek Kebijakan

Kondisi saat ini kecenderungan perluasan areal kakao terus berlanjut, walaupun tidak setajam periode 1985-1995 yang laju perluasannya rata- rata diatas 20% pertahun dan periode 1995-2002 yang rata-rata tumbuh 7,5% pertahun. Dengan kondisi areal yang ada dan masalah serangan hama PBK serta penyakit VSD yang cenderung terus meluas maka produksi kakao nasional dapat menurun dalam satu dasawarsa mendatang. Hal ini disebabkan karena peningkatan produksi dengan perluasan areal saat ini tidak dapat mengimbangi penurunan produksi tanaman tua dan tua renta, serta serangan hama PBK dan penyakit VSD sudah menjadi ancaman bagi produksi kakao nasional. Oleh karena itu upaya perbaikan perlu segera dilakukan agar produksi kakao nasional dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. Perbaikan perkebunan kakao dapat dilakukan melalui upaya rehabilitasi, peremajaan dan perluasan areal dengan bahan tanam unggul dan penerapan teknologi maju. Di samping itu, upaya pengendalian hama PBK dan penyakit VSD perlu terus digalakkan.

Klon kakao unggul yang dapat digunakan sebagai bahan pengembangan kakao di Indonesia

No

Nama Klon

Kelompok kakao

Potensi Produksi (ton)

Bobot 1 biji kering

Warna Biji Segar

1 DR1

Mulia

1,2

> 1 g

Putih

2 DR2

Mulia

1,5

> 1 g

Putih

3 DRC16

Mulia

1,5

> 1 g

Putih

4 DR38

Mulia

1,5

> 1 g

Putih

5 ICS60

Lindak

2,0

> 1 g

Ungu

6 TSH 858

Lindak

2,0

> 1 g

Ungu

7 GC7

Lindak

1.7

> 1 g

Ungu

8 Sca 12

Lindak

1.0

> 1 g

Ungu

9 UIT1

Lindak

1,7

> 1 g

Ungu

10 Sca 6

Lindak

1.0

< 1 g

Ungu

11 Sulawesi 1

Lindak

2,0

< 1 g

Ungu

12 Sulawesi 2

Lindak

2.0

< 1 g

Ungu

13 ICS13

Lindak

1.7

> 1 g

Ungu

14 PA 300

Lindak

1.3

> 1 g

Ungu

15 DRC 15

Mulia

1,5

> 1 g

Putih

16 RCC 70

Lindak

1,5

> 1 g

Ungu

17 RCC 71

Lindak

1,5

> 1 g

Ungu

18 RCC 72

Lindak

1,5

> 1 g

Ungu

19 RCC 73

Lindak

1,5

> 1 g

Ungu

20 ICCRI 01

Mulia

2,5

> 1 g

Putih

21 ICCRI 02

Mulia

2,5

> 1 g

Putih

22 ICCRI 03

Lindak

2,5

> 1 g

Ungu

23 ICCRI 04

Lindak

2,5

> 1 g

Ungu

Sumber: Puslit Koka, 2008.

Diharapkan dengan melakukan berbagai upaya perbaikan tersebut maka perluasan areal perkebunan kakao diharapkan terus berlanjut. Pada periode 2007-2010, areal perkebunan kakao diperkirakan masih tumbuh dengan laju 2,5% pertahun sehingga total areal perkebunan kakao diharapkan mencapai 1.105.430 ha dengan total produksi 730.000 ton. Pada periode 2010-2025 diharapkan pertumbuhan areal perkebunan kakao Indonesia terus berlanjut dengan laju 1,5% pertahun, sehingga total arealnya mencapai 1.354.152 ha pada tahun 2025 dengan produksi 1,3 juta ton.

Untuk mempercepat perbaikan tersebut di atas, pemerintah telah mencanangkan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional (Gernas Kakao). Gerakan ini akan diremajakan 70.000 ha, direhabilitasi 235.000 ha dan dilakukan intensifikasi terhadap 146.000 ha tanaman kakao di Sembilan provinsi yang meliputi 40 kabupaten sentra produksi kakao.

 

Kebijakan pengembangan agribisnis kakao adalah sebagai berikut:

1.     Intensifikasi kebun dengan mengelola penaung secara standard, melakukan pemangkasan, memupuk sesuai rekomendasi, dan mengendalikan organisme pengganggu;

  1.       2. Rehabilitasi kebun dengan menggunakan bibit unggul dengan teknik sambung samping dan sambung pucuk;

3.     Peremajaan kebun tua/rusak dengan bibit unggul;

4.     Perluasan areal pada lahan-lahan potensial dengan menggunakan bibit unggul;

5.     Peningkatan upaya pengendalian hama PBK dan penyakit VSD;

6.     Perbaikan mutu produksi sesuai dengan tuntutan pasar;

7.     Pengembangan industri pengolahan hasil mulai dari hulu sampai hilir, sesuai dengan kebutuhan;

8.     Pengembangan sub sistem penunjang agribisnis kakao yang meliputi: bidang usaha pengadaan sarana produksi, kelembagaan petani dan lembaga keuangan; dan

9.     Pengembangan usaha tani terpadu dengan mengintegrasikan ternak pada perkebunan kakao.

luas area dan produksi kakao indonesia : klik disini 

 

Sumber : Departemen pertananian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *