HIMALOGIN

Himpunan Mahasiswa Agroindustri

Category: Agroindustri News (page 1 of 6)

OPEN RECRUITMENT AKBAR

Selamat siang Agroindustrialist ~

bagaimana kabar kalian ?? tentunya baik yaa 😀

Kabinet Semut Merah HIMALOGIN akan mengadakan OPEN RECRUITMENT AKBAR yang akan dilaksakan bulan april. Apa aja sih Acara yang akan diadakan Open recruitment? Ada beberapaa acara yang akan kami buka diantaranya AGROINDUSTRIAL FAIR dan FORAGRIN

AGROINDUSTRIAL FAIR  adalah acara tingkat NASIONAL yang akan kami adakan dengan berbagai rangkaian acara didalamnya diantaranya LOMBA NASIONAL dan juga SEMINAR NASIONAL.

Sedangkan FORAGRIN adalah kepanjangan dari Forum Agroindustri Indonesia. Organisasi ini adalah Organisasi yang terdiri dari Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian dari 9 Universitas aktif yang terdaftar.

informasi lebih lanjut akan diinfokan kembali~

soo.. jangan lewatkan ACARA dan ORGANISASI kece tersebut~

Share

Biotechnology offers path to meet global needs

A Nebraska farmer touted environmental and production benefits of integrating biotechnology on his farm during a recent international symposium.

Steve Wellman of Syracuse, Neb., was among the panelists at the Illinois Soybean Association-hosted International Biotechnology Symposium.

More than 200 biotechnology regulators, government officials, industry and organization representatives, international trade experts and farmers from 13 counties attended the event.

Wellman, American Soybean Association chairman, first saw biotech crops in action years ago when he hosted on-farm trials of the Roundup Ready trait before it was commercialized.

“We couldn’t harvest, but had the opportunity to utilize the Roundup and see the benefits of the weed control,” he said.

“It was really easy for me to identify how it was going to fit into our operation, especially since we were moving toward all no-till. It became quickly obvious that Roundup Ready soybeans were going to play a role in making us more efficient in making that transition toward no-till production.”

About five years ago, he hosted an on-farm trial of the DroughtGard trait.

“We couldn’t take it to harvest, but it was evident of the quality and the improvement in the DroughtGard. It was able to utilize the moisture better and be able to have higher production when we don’t have sufficient moisture,” he said.

“I believe that biotechnology is the base that drove a lot of the improvements here in the U.S. and our ability to utilize conservation tillage.”

Wellman referred to a report issued in 2009 by the Council for Agricultural Science and Technology that concluded “today’s commercialized biotechnology-derived soybean crops yield significant environmental benefits primarily by supporting conservation tillage on more fields than previously implemented.”

He agrees with that, adding the CAST report noted biotechnology use results in a 93 percent decrease in soil erosion, the preservation of 1 billion tons of topsoil, 70 percent reduction of herbicide and pesticide runoff, 148 million kilogram reduction in carbon dioxide emissions, 80 percent reduction in phosphorous contamination of surface water, annual soil evaporation loss reduction and 50 percent less fuel usage.

“It seem to me like it really all comes down to a sustainability message and the message to produce more with less resources, and I believe that biotechnology is the driver to reach the goals that we have of sustainable agriculture production,” he said.

Wellman also referred to a 2012 study conducted by Stanford University that found that advances in high-yield agriculture have prevented massive amounts of greenhouse gas from entering the atmosphere, the equivalent of 590 billion tons of carbon dioxide.

“And in the end, the yield intensification has lessened the pressure to clear land. We do have a limit on land availability in the U.S. and if we want to compete internationally with production we have to make better use of the land we have,” he said.

“The improvement of crop yields should therefore be prominent among the portfolio strategies to reduce global greenhouse gas emissions,” according to the Stanford study.

“We’ve faced a lot of discussion here in the U.S. and in the European Union and with some of our customers that we market to about the sustainability of production and can we demonstrate how sustainable we are. I believe we can, and the base of that has been biotechnology,” Wellman said.

He noted the current portfolio of traits, some of which are on hold awaiting EU approval. One of the traits on hold is the high oleic trait that has been in the approval process with EU for about six years.

“What we have done here in the U.S. is we haven’t taken a soybean trait to full production until we have approval in all the markets we export to, so to have a trait overseas that’s awaiting approval for six years really inhibits our ability as U.S. producers to take advantage and utilize those new traits and see the benefits of those new traits,” he said.

“I was really disappointed in the recent announcement by (Agriculture) Secretary (Tom) Vilsack and the administration that they are going to require a full environmental impact study which will delay the approval of the 2,4-D and dicamba resistance traits for at least two years.

“As farmers deal with some weed resistance of herbicides, glyphosate, in particular, those two tools are going to be very advantageous for U.S. producers. It comes at a bad time.

“We’ve had weed resistance to herbicides long before biotechnology, so to me it’s not a biotech problem to have weed resistance. I believe biotechnology is a solution to solving this weed resistance and another tool we can use.”

These efforts to sustainably increase production on the acres currently available is necessary to meet increasing global demand due to a growing population and increased income, Wellman said.

“Specifically on corn, between 2000 and 2030 it’s predicted that the demand for corn will increase 76 percent and the demand for soybeans will increase 125 percent globally, so that will be another 70 to 80 million metric tons of soybeans required per year the next decade,” he said.

“To me, biotechnology, increasing production agriculture and sustainable agriculture go together. I believe that biotechnology has been the trigger for our advancements, and it will be a future to production agriculture to continue to be sustainable and to improve upon that.”

source: http://agrinews-pubs.com/Content/News/Latest-News/Article/Biotechnology-offers-path-to-meet-global-needs-/8/6/8551

Share

Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik

Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik

Tak lama menunggu, tiba-tiba muncul sosok lelaki dengan tampilan penuh wibawa. Yah, dialah Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UMI Makassar, Prof Muhammad Hattah Fattah. Di Sulsel, ia satu-satunya konsultan untuk penerapan teknologi pengolaan sampah dengan sistem incinerator.

Siang itu, dengan penuh semangat ia menceritakan teknologi pembakaran sampah tanpa sisa yang sudah dikembangkan di negara-negara Eropa seperti Prancis, Belanda dan negara lainnya. Selain tanpa sisa dan bau, uniknya hasil olahan sampah dengan teknologi incinerator ini bisa menghasilkan energi listrik.

“Kalau teknologi ini bisa dijalankan di Sulsel, maka di Indonesia daerah kita yang pertama menerapkannya,” katanya.

Memang agak aneh, ahli perikanan dan ilmu kelautan kok bisa menjadi konsultan untuk pengolaan sampah. Ternyata itu semua berawal dari keikusertaanya pada Forum Perhutani Indonesia yang memang fokus memperhatikan masalah lingkungan hidup. Sehingga tak mengherankan kalau bapak empat anak itu ahli dalam sanitasi dan kelestarian lingkungan, termasuk pengolaan sampah.

Saat ini sampah masih menyisahkan masalah serius terutama di perkotaan. Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) permukiman penduduk, mencemari udara, tanah, air serta menjadi tempat berkembang biak binatang maupun bakteri pembawa penyakit.

Setelah berhari-hari menumpuk dan membusuk di TPS, sampah diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Puluhan truk pengangkut sampah melewati jalan umum, menebarkan bau tidak sedap dan bisa menyebarkan penyakit. Di TPA sampah juga hanya dibiarkan menumpuk, menggunung, mencemari udara, mencemari air tanah dalam skala lebih luas.

Incinerator atau alat pembakaran sampah hadir sebagai solusi dari semua masalah yang ditimbulkan sampah tersebut.

“Kami sudah melakukan sosialiasi ke pemprov namun kami masih menunggu kepastian karena memang perlu pengkajian lebih dalam. Untuk saat ini, kami sudah mendapat signal positif dari Bupati Gowa yang sangat ingin menerapkan teknologi ini. Kebetulan bupati ternyata sudah dari China mengunjungi pabriknya langsung,” papar Hattah.

Menurut Hattah, teknologi yang coba ditawarkan di Sulsel ini merupakan teknologi yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan yang berpusat di Kuala Lumpur Malaysia oleh Solid Waste Menegement (SWT).

Memang untuk teknisnya, Hattah tidak begitu tahu namun untuk kajian dampak lingkunggan boleh dikata sudah tuntas. Ia menjelaskan, penerapan teknologi ini bisa memecahkan sejumlah persoalan lingkungan akibat sampah yang dihasilkan setiap harinya.

“Teknologi ini sangat ramah lingkungan. Selain itu, output yang dihasilkan pun sangat bermanfaat karena menghasilkan energi listrik yang sangat bermanfaat. Begitupun dengan ampas berupa klek yang bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan paving block. Bahkan di negara maju sudah dikembangkan menjadi aspal,” jelasnya panjang lebar.

Dalam kondisi normal suhu pembakaran incinerator mencapai 900 derajat celcius yaitu suhu yang aman untuk memusnahkan sampah infeksius dan menyebabkan senyawa beracun dapat terurai pada sistem pembakaran sempurna. Serta emisi gas buang Incinerator jauh lebih baik dari standar baku mutu yang ditetapkan Lingkungan Hidup.

(-PR-)

Share

Pendirian Usaha 2

Firma (fa)

Firma adalah perusahaan yang didirikan oleh dua orang atau lebih dan menjalankan perusahaan atas nama perusahaan. Dalam persekutuan firma umumnya seluruh sekutu memiliki kewajiban tidak terbatas terhadap utang perusahaan, sedangkan dalam persekutuan terbatas satu atau lebih pemilik mungkin memiliki kewajiban terbatas.

Untuk mendirikan firma terdiri dari dua cara. Pertama melalui akta resmi dan yang kedua akta dibawah tangan. Jika melalui akta resmi, maka proses selanjutnya harus sampai di berita Negara. Namun jika memilih akta di bawah tangan proses tersebut tidak perlu, cukup melalui kesepakatan pihak-pihak terlibat.

Kepemimpinan firma berada sepenuhnya di tangan pemilik sekaligus bertanggung jawab terhadap segala resiko yang mungkin timbul, seperti masalah utang piutang. Modal firma diperoleh dari mereka yang terlibat dalam firma dan besarnya tergantung kesepakatan dari para pihak yang terlibat.

 

Mendirikan perusahaan bentuk firma lebih menguntungkan dibandingkan dengan perusahaan perorangan. Keuntungan dengan pendirian perusahaan dalam bentuk firma antara lain:

1. Untuk mendirikan firma relatif mudah, tidak memerlukan persyaratan yang berat. Namun jika dibandingkan dengan perusahaan perseorangan lebih sedikit berat kerena dalam firma perlu kesepakatan para pihak yang akan mendirikan firma.

2. Dalam pendirian firma tidak terlalu memerlukan akta formal, karea dapat menggunakan akta dibawah tangan (tidak formal).

3. Lebih mudah memperoleh modal, karena pihak perbankan lebih mempercayainya. Apalagi jika firma tersebut didirikan dengan akta resmi dan juga tidak terlalu banyak peraturan permerintah yang mengatur.

4. Lebih mudah berkembang karena dipegang lebih dari satu orang, sehingga lebih terbuka terhadap berbagai pendapat atau kritikan untuk kemajuan usaha.

 

Adapun kerugian jika memilih perusahaan dalam bentuk badan hukum yaitu:

1. Pemilik firma memiliki tanggung jawab yang tidak terbatas atas utang yang dimilikinya.

2. Apabila salah satu pihak pemilik firma meninggal dunia atau mengundurkan diri, maka akan mengancam kelangsungan hidup perusahaan.

3. Kesulitan dalam peralihan kepemimpinan karena berbagai kepentingan para pihak yang terlibat dan juga sering terjadi konflik kepentingan sehingga dapat mengancam kemajuan usahanya.

4. Kesulitan dalam menghimpun dana untuk jumlah besar, serta mengikuti tender dalam jumlah tertentu.

 

Penjelasan CV akan diberikan pada materi yang akan datang

(-PR-)

Share
Older posts

© 2017 HIMALOGIN

Theme by Anders NorenUp ↑